Memiliki anak yang pandai adalah dambaan bagi sebagian orang tua, bahkan tidak jarang orang tua rela merogoh kantong lebih dalam untuk menggali potensi kecerdasan anak dengan memasukan ke dalam lembaga pendidikan yang terpercaya yang biayanya lebih mahal dari lembaga lainnya.e Beberapa orangtua juga memasukan anaknya ke lembaga pendidikan non formal seperti bimbingan belajar karena merasa anaknya memiliki kelemahan dalam belajar.
Saya akan membahas tentang mengapa ada anak yang terlihat lemah dalam belajar?
Sesungguhnya tidak ada anak yang bodoh atau lemah menangkap pelajaran, apalagi untuk anak pada tahapan golden age dimana masa emas yang merupakan masa penting untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangannya. Pada masa golden age, pembentukan system saraf secara mendasar sudah terjadi. Jika tokoh pengajar bisa membuatnya nyaman dan mengenali tipe pembelajaran yang sesuai dengan anak masa golden age akan menjadi dasar utama anak untuk menangkap kecerdasaran anak.
Pendidikan di Indonesia masih menggunakan metode yang sama rata dalam pengajaran, dalam contoh di paud calistung masih menggunakan metode menghapal sedangkan beberapa anak lemah dalam hapalan tetapi unggul dalam kreativitas, jika anak yang unggul dalam kreativitas belajar calistung dengan berkreasi seperti membuat kartu baca dengan warna dan gambar yang menarik, atau membuat game yang membuat game yang memaksa mereka membaca jika ingin menyelesaikannya.
Jadi ada baiknya sebagai orangtua jika ingin memasukan anak ke lembaga pendidikan, kenali dulu tipe pembelajaran yang sesuai dengan anak kita.
